Raptor Indonesia
" an effort to study and conserve raptors and it's habitat through networking in Indonesia"
  • Home
  • About Us
  • Program
    • All about Garuda >
      • All about Garuda - Yogyakarta
      • All about Garuda - Surabaya
      • All about Garuda - Kuningan
    • Raptor Migration Survey >
      • Autumn Migration
      • Spring Migration
  • Species Account
    • Faconiformes
    • Strigiformes >
      • Bibliography
  • Gallery
    • Raptor Images >
      • Osprey
      • Baza's
      • Honey-buzzard
      • Kites
      • Sea Eagle & Fish Eagle
      • Short-toed Snake-eagle
      • Accipiter
      • Nisaetus (Hawk-eagle)
      • Falconets
  • Blog
  • Contact Us

Elangalap Nipon

9/23/2016

Comments

 
Picture
Elangalap Nipon atau Elangalap jepang jantan dewasa. Burung pemangsa migran terpantau melakukan istirahat di Buper Cibeureum, Kuningan, Jawa Barat pada April 2014 / Asman Adi Purwanto
JAPANESE SPARROWHAK
Accipiter gularis Temminck and Schlegel, 1844

Subspecies dan DIstirbusi
Di dunia diketahui ada 3 subspesies untuk jenis ini. 
  • A. g. sibiricus Stepanyan, 1959 – Mongolia hingga ke Rusia, Okhotsk. kemungkinan bermigrasi ke Asia Tenggara hingga ke Sunda Besar. 
  • A. g. gularis (Temminck & Schlegel, 1844) – Rusia hingga Siberia Timur, Sakhalin, Korea, Timur Laut Cina dan Jepang. Bermigrasi ke Cina bagian Selatan dan Tenggara, Filipina, Indonesia [ di indonesia tersebar hampir diseluruh Kepeulauan di Indonesia ], dan Timor Leste. 
  • A. g. iwasakii Mishima, 1962 – Kepulauan Ryukyu. 
​Deskrpisi
Burung pemangsa migran berukuran kecil 23 - 30 centimeter. Lebih kecil dari Elangalap Cina, mirip Elangalap Besra, cepat dan gesit. Jantan dewasa: tubuh bagian atas abu-abu, ekor abu-abu dengan beberapa garis melintang gelap, dada dan perut merah karat pucak dengan strip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Dengan pola ekor persegi dengan lekukan di tengah ( Square cut and central notch). Betina: tubuh bagian atas coklat (bukan abu-abu), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris-garis coklat melintang rapat. Dengan pola ekor Persegi (Square cut), namun berbeda ketika teramati dalam posisi soaring. Kadang terlihat membulat. Remaja: Dada lebih banyak coretan daripada garis-garis melintang dan lebih merah karat. Iris kuning sampai merah, paruh biru abu-abu dengan ujung hitam, sera dan khaki kuning-hijau.
Picture
Indvidu jantan dewasa dengan warna babagian bawah lebih putih dibanding individu betina/ Asman Adi Purwanto
Suara
Suara pekikan "kee-bick" "kew-kew" dan terkadang melengking "kik-kik-kik" 

Habitat
Berburu dipinggiran hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang-kadang terbang berputarputar mengamati di bawahnya denga cara terbang ”kepak-kepak-luncur” yang khas.

Berbiak
Musim berbiak di Jepang umumnya pada bulan Juni- Agustus. Sarang berukuran kecil terdiri dari ranting- ranting kecil yang ditumpuk, disusun bersama dengan kulit kayu dan dialasi dengan dedaunan hijau. Ketinggian sarang mulai dari 10 - 25 meter dari permukaan tanah. Jenis ini sering bersarang di area pemukiman. Jumlah telur 2 - 5 butir telur dengan masa pengeraman 26-29 hari. Anakan elang keluar dari sarang pada umur sekitar 25-30 hari. 

Picture
Individu betina dewasa dengan coretan tebah pada bagian bawah, ekor membulat dan iris mata kuning/ Asman Adi Purwanto
Makanan
Makanan berukuran kecil sampai ukuran sedang. Makanan utamanya adalah burung-burung passerine, serangga dan mamalia kecil. 

Kebiasaan dan Status Migrasi
Pengunjung pada musim dingin September-November dalam jumlah besar. Mengunjungi daerah terbuka seperti savana untuk beberburu burung kecil dan serangga.
Melakukan migrasi pada musim dingin selama bulan September sampai Nopember dan Kembali bulan Maret hingga Mei. 
Di jawa, lokasi pengamatan migrasi di jawa barat adalah Puncak, Bogor, Gunung Tangkuban Perahu, Papandayan, Cibodas, Halimun Salak. Kemudian ke timur melewati Merapi, Semarang. 

Status Keterancaman dan Perlindungan
Secara umum mengenai populasi dan status konservasinya tidak banyak diketahui. Perburuan pada musim migrasi menjadi ancaman terhadap konservasi raptor migran di Indonesia. 
Dilindungi Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, PP 7 tahun 1999. Masuk kedalam kategori Least Concern (IUCN 2011) Appendix II CITES. 

Sumber bacaan: 
  1. Ferguson-Lees, J., and D.A. Christie. 2001. Raptors of the world. Houghton Mifflin, Boston, MA.
  2. Purwanto, A.A., F.D.N. Aji.., R. Hindriatni., A. Sukistyanawati., H. Cahyono., dan D. Sasmita. 2013. Panduan Lapang Burung Pemangsa di Kawasan Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur. Balai Besar KSDA Jawa Timur. Surabaya. 
  3. Yamazaki, T., Nitani, Y., Murate, T,. Lim, K.C., Kasorndorbua, C., Rakhman, Z., Supriatna, A., and Gomboaatar, S. 2012. Field Guide to Raptor of Asia, Vol. 1, Migratory Raptors of Oriental Asia. Asian Raptor Research and Conservation Network, Japan. 119 Pp.
  4. Prawiradilaga, D.M., T. Murate, A. Muzakir, T. Inoue, Kuswandono, A.A. Supriatna, D. Ekawati, M. Y. Afianto, Hapsoro, T. Ozawa, dan N. Sakaguchi. (2003). Panduan Survey Lapangan dan Pemantauan Burung – burung Pemangsa. Biodiversity Conservation Project – JICA, Bogor
Semua foto oleh Asman Adi Purwanto 
Comments

    Archives

    November 2016
    October 2016
    September 2016
    March 2016
    February 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    March 2015
    February 2015

    RSS Feed

    Categories

    All
    Event
    Species Account

Powered by Create your own unique website with customizable templates.